Aug 5, 2020
4 Views

Transistor – Komponen Serba Guna Pada Rangkaian Elektronik

Written by

Bagi anda yang saat ini sedang mengenyam pendidikan di sekolah teknik dan mempelajari tentang elektronika, pastinya sudah tidak asing lagi dengan istilah transistor. Pengetahuan tentang komponen ini biasanya diajarkan pada pelajaran elektronika dasar atau pada saat seseorang mulai belajar tentang elektronika.

Pengertian, fungsi, dan cara kerja komponen ini adalah beberapa hal yang biasanya dipelajari siswa di awal pendidikan teknik mereka. Mengingat fungsinya yang sangat penting, komponen ini tidak dapat dipisahkan dalam setiap rangkaian elektronika.

transistor

Tidak hanya itu, komponen ini juga dapat ditemukan hampir di semua benda elektronik yang kita gunakan sehari-hari. Ponsel, komputer, televisi, video player, audio amplifier, dan konsol game merupakan beberapa benda elektronik yang menggunakan transistor.

Anda ingin mengetahui lebih banyak tentang komponen ini? Berikut ulasannya.

Transistor: Pengertian

Pada dasarnya, transistor merupakan salah satu komponen aktif pada rangkaian elektronika. Terbuat dari bahan semikonduktor, komponen ini memiliki fungsi dasar sebagai pembangkit sinyal, sakelar elektronik, osilator, penyearah, pengalih, modulator, stabilitasi tegangan, pengendali, dan juga penguat tegangan.

Selain fungsi dasar, komponen tersebut juga memiliki fungsi turunan yang bervariasi berdasarkan rangkaian elektronika yang diperlukan. Pada umumnya, transistor memiliki 3 elektroda yaitu emitor (E), kolektor (C), dan basis (B).

Meski tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lainnya, ketiga konduktor tersebut memiliki fungsi yang berbeda-beda. Seperti halnya keran arus, komponen ini bertujuan untuk menghambat, atau sebaliknya, mengalirkan arus sesuai kontrol yang diberikan.

Tidak seperti tabung hampa yang hanya dapat berfungsi jika menggunakan tegangan tinggi dan elemen cahaya sebagai filamen, transistor hanya menggunakan bahan semikonduktor. Bahan ini tidak hanya efisien tetapi juga berukuran jauh lebih kecil.

Selain itu, bahan semikonduktor yang digunakan juga membuat komponen ini dapat dioperasikan dengan tegangan yang relatif rendah.

Sejarah Transistor

Menurut sejarahnya, transistor ditemukan oleh 3 fisikawan Amerika Serikat pada tahun 1947. Ketiga fisikawan tersebut, John Bardeen, William Shockley, dan Walter Brattain menciptakan komponen jenis bipolar yang mengubah industri perangkat elektronik dunia.

Dengan penemuan BJT (Bipolar Junction Transistor) tersebut, perangkat-perangkat elektronik tidak lagi dibuat dengan ukuran yang besar. Awal mula dibuatnya komponen bipolar ini adalah untuk menggantikan peran tabung hampa yang telah lama digunakan dalam industri elektronik. Kedua perangkat tersebut juga memiliki cara kerja yang hampir sama.

Yang membedakan hanyalah ukuran fisik serta besar tegangan yang digunakan untuk mengaktifkan komponen-komponen tersebut. Transistor jenis bipolar memungkinkan perusahaan-perusahaan elektronik untuk membuat perangkat-perangkat berukuran jauh lebih kecil dan juga portabel.

Dengan penemuan luar biasa ini, ketiga fisikawan Amerika tersebut mendapat hadiah Nobel Fisika pada tahun 1956.

Namun, jauh sebelum John Bardeen, Williaim Shockleym dan Walter Brattain mempublikasikan penemuan mereka, seorang penemu lain telah mempatenkan transistor jenis lain. Julius Edgar Lilienfeld, seorang fisikawan asal Kanada telah menemukan komponen berjenis Field Effect (unipolar) pada tahun 1925.

Akan tetapi fisikawan tersebut tidak pernah mempublikasikan hasil penemuannya baik dalam bentuk prototype maupun tulisan. Oleh karena itu, penemuan Julius Edgar Lilienfeld tidak banyak diketahui oleh publik.

Selain Lilienfeld, Oskar Heil, seorang fisikawan yang berasal dari Jerman juga pernah mendaftarkan paten untuk komponen yang hampir sama di Eropa pada tahun 1932.

Seiring waktu, produk transistor yang ada sekarang ini telah mengalami berbagai perkembangan. Saat ini, komponen tersebut hadir dengan berbagai jenis desain. Tidak hanya itu, jenis-jenis komponen ini juga menawarkan fitur aliran arus dan pengendali yang unik.

Sebagai contoh, ada jenis transistor yang secara otomatis berubah menjadi ON setelah terminal basis diberikan arus listrik meskipun sebenarnya komponen itu dalam kondisi OFF. Sebaliknya, ada komponen jenis lain yang hanya dapat berubah dari kondisi ON ke OFF saat terminal basis dialiri listrik.

Selain itu ada juga jenis komponen yang hanya dapat dioperasikan dengan tegangan dan arus kecil. Berbagai jenis komponen tersebut membuat kita memiliki banyak pilihan ketika membutuhkan transistor untuk keperluan-keperluan tertentu.

Struktur Dasar Transistor

Pada dasarnya, transistor terdiri dari 2 komponen utama, yaitu 3 lapisan semikonduktor dan 3 terminal (basis, kolektor, dan emitor). Namun, jika dilihat dari strukturnya, transistor tersusun dari 2 sambungan ioda.

Dari kedua sambungan yang menyusunnya, komponen ini kemudian dibagi menjadi 2 tipe utama, yaitu NPN (Negatif – Postif – Negatif) dan PNP (Positif – Negatif – Positif).

Jenis-Jenis Transistor

Secara umum, transistor dibedakan menjadi 2 jenis utama, yaitu Bipolar (BJT) dan Field Effect (FET/ unipolar). Kedua jenis komponen ini memiliki perbedaan terutama pada letak output (bias input) yang diaplikasikan.

Berbeda dengan FET yang hanya memerlukan tegangan saja (tanpa arus) untuk mengendalikan terminal lainnya, BJT membutuhkan current atau arus. Selain membutuhkan arus, komponen bipolar juga memerlukan elektron dan pembawa arus (carrier) hole dalam pengoperasiannya.

Namun, FET hanya memerlukan salah satu diantaranya saja. Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai perbedaan BJT dan FET, berikut ulasan singkatnya.

  • BJT

Sesuai dengan sebutannya, komponen bipolar memiliki dua kutub (“bi” berarti dua dan “polar” berarti kutub). Pada dasarnya BJT memiliki struktur dan prinsip kerja yang membutuhkan perpindahan elektron (muatan pembawa) di kutub negatif.

transistor bjt

Hal ini bertujuan untuk mengisi kekurangan elektron di kutub positif. Yang termasuk jenis komponen bipolar ini adalah NPN dan PNP.

  • NPN

transistor NPN

Transistor ini menggunakan tegangan positif serta arus listrik yang relatif kecil pada terminal Basis (B). Fungsi NPN adalah untuk mengendalikan arus dengan tegangan dan muatan yang lebih besar dari terminal kolektor (C) ke terminal Emitor (E).

  • PNP

transistor PNP

Seperti halnya NPN, PNP juga hanya membutuhkan arus listrik yang kecil. Akan tetapi jenis komponen BJT ini memerlukan tegangan negatif pada terminal B. Berbeda dengan NPN, PNP bertujuan untuk mengendalikan arus dengan tegangan dan muatan yang jauh lebih besar dari terminal E ke terminal C.

  1. FET

FET juga sering kali disebut sebagai Transistor Efek Medan. Medan listrik yang dimaksud di sini adalah tegangan listrik yang dialirkan melalui terminal G (Gate). Untuk selanjutnya, tegangan listrik tersebut digunakan untuk mengendalikan tegangan dan arus pada terminal D (Drain) menuju ke terminal S (Source).

transistor FET

Jenis komponen FET ini membutuhkan arus listirk untuk mengendalikan konduktivitasnya. Karena hanya memerlukan satu muatan pembawa saja, yaitu Hole maupun Elektron dalam pengoperasiannya, FET juga sering disebut sebagai Transistor unipolar.

Sementara untuk jenis-jenisnya, FET dibagi menjadi beberapa tipe, yaitu: JFET, MOSFET, dan UJT.

  • JFET (Junction Field Effect Transistor)

Sesuai namanya, JFET merupakan komponen yang membutuhkan junction (persimpangan) p-n bias terbalik. Junction tersebut berfungsi sebagai isolator yang menghubungkan terminal G dengan kanalnya.

transistor JFET

JFET sendiri terbagi menjadi dua jenis, yaitu JFET kanal N (n-channel) dan JFET kanal P (p-channel). Selain itu, JFET juga memiliki tiga kaki terminal, yaitu G (Gate), D (Drain), dan S (Source).

  • MOSFET (Metal Oxide Semiconductor Field Effect Transistor)

Komponen ini adalah jenis FET yang menggunakan isolator seperti Silicon Dioxide (SiO2) diantara terminal G (Gate) dan kanalnya.

transistor MOSFET

Tidak hanya itu, MOSFET juga terbagi menjadi 2 jenis kanal (n-channel dan p-channel) serta 3 kaki terminal (Gate, Drain, dan Source). MOSFET sendiri memiliki 2 konfigurasi yang berbeda, yaitu MOSFET Enhancement dan MOSFET Depletion.

Polaritas tegangan G (Gate) dibandingkan dengan S (Source) pada komponen FET ini digunakan untuk menghantarkan arus listrik. Sebagai contoh, Gate dalam depletion mode berada pada posisi negatif apabila dibandingkan dengan Source.

Sementara itu, Gate pada enhancement mode berada pada posisi negatif juka dibandingkan dengan Source. Akibatnya, aliran arus listrik pada diantara terminal Drain dan Mode akan meningkat secara signifikan apabila tegangan pada terminal Gate diubah ke posisi positif.

  • UJT (Uni Junction Transistor)

Komponen ini digolongkan sebagai jenis FET karena menggunakan tegangan dan medan listrik sebagai pengendali dalam pengoperasiannya. Akan tetapi, UJT memiliki perbedaan dengan jenis FET lainnya.

transistor UJT

Perbedaan tersebut terletak pada struktur pembentuk UJT, yaitu 1 terminal Emitor dan 2 terminal Basis (B1 dan B2). Sebagai bagian dari FET, UJT memiliki fungsi khusus sebagai switch (pengendali). Tidak seperti jenis transistor lainnya, komponen ini tidak dapat difungsikan sebagai penguat.

Cara Kerja Transistor

Di luar konteks teknisnya, cara kerja transistor pada umumnya adalah tidak lebih dari sebuah komponen yang berfungsi mengalirkan atau memutuskan arus listrik tanpa menggerakkan bagian mekanisnya.

Bahan semikonduktor yang digunakan pada perangkat tersebut memiliki 4 atom dengan posisi yang saling berdekatan satu sama lain. Keempat atom ini diikat dengan elektron yang disebut dengan pita valensi.

Tujuannya adalah agar atom-atom tersebut tidak menyerap energi serta menyalurkannya satu sama lain. Sehingga, bahan semikonduktor yang digunakan pada perangkat tersebut tidak menghantarkan listrik.

Lalu bagaimana cara kerja komponen BJT dan FET pada suatu rangkaian elektronika? Berikut penjelasannya.

  • BJT

Perlu anda ketahui, komponen tersebut dinamakan BJT atau bipolar karena menggunakan 2 polaritas pembawa muatan elektron dan lubang. Kedua polaritas tersebut berfungsi sebagai arus atau muatan listrik pada suatu rangkaian elektronik.

Arus utama listrik pada BJT pada umumnya harus melewati suatu lapisan pembatas yang disebut depletizon. Untuk memfungsikan alur listrik utama yang terdapat pada perangkat bipolar, ketebalan lapisan pembatas tersebut harus diatur dengan kecepatan tinggi.

Bipolar merupakan komponen yang paling umum di temukan pada perangkat elektronik dewasa ini. BJT memiliki 3 kaki yang disebut Emitor (E), Kolektor (C), dan Basis (B). Perbedaan fungsi ketiga kaki pada BJT ini dapat terlihat dengan jelas pada polaritas arah arus listrik serta pemberian tegangan bias yang berlawanan.

Karena ukurannya yang lebih kecil, komponen bipolar memiliki dispasi daya yang juga relatif lebih kecil. Oleh karenanya, BJT dapat berfungsi dengan baik pada suhu yang lebih rendah. BJT memiliki 2 persimpangan (junction), yaitu Emiter-Base junction dan Collector-Base junction,  yang dapat disamakan dengan 2 dioda yang digabungkan menjadi satu.

Akan halnya dioda, arus listrik pada komponen bipolar hanya dapat mengalir jika diberi bias positif. Hal ini berarti BJT hanya dapat bekerja jika tegangan yang terdapat pada material P lebih positif dibandingkan dengan tegangan pada material N.

Kondisi ini juga sering disebut sebagai forward bias.

  • FET (Unipolar)

Sesuai dengan namanya, komponen unipolar ini hanya memiliki satu jenis muatan saja, yaitu “hole” atau elektron. Muatan yang terdapat pada komponen ini biasanya tergantung pada tipe FET yang digunakan.

Berbeda dengan BJT, arus listrik utama pada FET hanya dialirkan pada satu kanal konduksi yang sempit dimana pada sisinya terdapat depletion zone.

Sementara itu, untuk mengubah kanal konduksi pada FET keadaan daerah pembatas ini harus diubah dengan menggunakan ketegangan yang diberikan.

Fungsi Transistor

Transistor yang terdapat pada rangkaian elektronika memiliki berbagai fungsi. Berikut adalah beberapa fungsi utama komponen ini.

  • Sebagai Penguat Arus (Amplifier)

Salah satu fungsi transistor yang paling umum adalah sebagai penguat arus atau biasa disebut dengan istilah “amplifier”. Komponen ini dapat memperkuat berbagai macam rangkaian elektronik seperti misalnya penguat frekuensi radio (RF), penguat audio, dan masih banyak lagi.

transistor sebagai amplifier

Saat menggunakan sebuah transistor sebagai penguat arus, komponen ini harus dibias dengan tegangan yang tetap pada terminal basisnya. Hal ini bertujuan agar terminal emitor juga menghasilkan tegangan yang tetap.

Untuk menjaga tegangan pada terminal basis tetap pada kondisi semula, anda dapat menggunakan diode zener. Ada beberapa konfigurasi rangkaian yang diaplikasikan pada penggunaan komponen ini sebagai penguat.

Diantara konfigurasi rangkaian yang paling banyak digunakan adalah common emitor (pengikut emitor), common collector (pengikut kolektor), dan common basis (pengikut basis).

Sebagai penguat rangkaian elektronik, komponen ini juga memiliki 2 parameter yang dikuatkan, yaitu penguatan sinyal dan penguatan arus.

Contoh pemanfaatan perangkat ini untuk penguatan arus dapat dilihat pada beberapa benda, salah satunya adalah power supply (catu daya). Sedangkan contoh penggunaan komponen ini untuk penguatan sinyal dapat ditemukan pada rangkaian amplifier audio.

Sementara itu, jenis sinyal yang diberi penguatan adalah sinyal AC yang memiliki frekuensi 20-20 kHz.

  • Sebagai Sakelar

Manfaat lain transistor pada rangkaian elektronika adalah sebagai sakelar. Akan tetapi, perlu anda ingat bahwa prinsip kerja sakelar elektronika ini berbeda dengan prinsip kerja yang digunakan sakelar elektromekanik pada relay serta sakelar sederhana.

transistor sebagai saklar

Sakelar elektronik yang memanfaatkan perangkat ini biasanya akan dikontrol secara elektrik. Tidak hanya itu, sakelar elektronika ini juga dapat dikondisikan bahkan tanpa adanya sistem mekanis yang beroperasi. Inilah alasan mengapa sakelar jenis ini juga dinamakan sakelar elektronik.

Secara umum, sakelar ini dapat dioperasikan dengan cara mengatur bias dari sebuah transistor hingga maksimal. Tujuannya adalah untuk menghasilkan hubungan singkat antara emitor dan kaki konektor. Dengan adanya hubungan singkat tersebut maka komponen dapat dimanfaatkan sebagai sakelar.

Jika dibandingkan dengan sakelar elektromekanik ataupun sakelar jenis mekanik sederhana, sakelar elektronik memiliki beberapa keunggulan. Sakelar jenis ini memiliki kecepatan yang tinggi, baik pada posisi ON ataupun OFF.

Tidak hanya itu, sakelar elektronik juga lebih awet. Tidak seperti sakelar jenis mekanik yang akan aus jika digunakan dalam waktu yang lama, sakelar elektronik tidak memiliki “masa kadaluarsa”.

Contoh lain penggunaan sakelar elektronik juga dapat dilihat rangkaian driver motor stepper. Bahkan, sakelar jenis ini dapat ditemukan pada semua rangkaian driver yang menggunakan sistem kontrol dengan mengaplikasikan sistem pulsa.

Hal ini dikarenakan sistem driver motor dengan menggunakan sistem pulsa hanya dapat dioperasikan dengan kecepatan yang tinggi. Sehingga kecepatan motor yang digerakkan juga akan semakin meningkat seiring dengan bertambahnya kecepatan pulsa.

  • Sebagai Pembangkit Sinyal (Osilator)

Pada dasarnya, osilator atau pembangkit sinyal adalah rangkaian elektronika yang digunakan untuk menghasilkan sinyal dengan frekuensi serta amplitudo tertentu. Prinsip kerja osilator adalah membangkitkan getaran frekuensi dengan menggunakan komponen L – R – C.

transistor osilator

Ini adalah komponen yang dihasilkan dari penggabungan antara kapasitor, resistor, dan induktor yang bertujuan untuk menghasilkan resonansi tertentu. Namun penggunaan LRC semata-mata tidaklah cukup memadai.

Untuk menghasilkan frekuensi seperti yang dikehendaki maka anda juga harus menggunakan komponen aktif transistor. Pemanfaatan osilator pada rangkaian elektronika bisa ditemukan dalam berbagai benda yang digunakan sehari-hari.

Akan tetapi penggunaan komponen ini sebagai osilator sangat bergantung pada tujuan pemanfaatan frekuensi yang dihasilkan. Beberapa contoh pemanfaatan perangkat ini sebagai osilator dapat ditemukan pada power supply switching, audio, radio, dan masih banyak lagi.

Seiring dengan berkembangnya teknologi, cara membangkitkan osilator untuk digunakan pada berbagai rangkaian elektronik juga semakin beragam. Salah satunya adalah dengan memanfaatkan komponen yang sudah terintegrasi atau yang biasa disebut IC (Integrated Circuit) yang terdapat di dalamnya.

Salah satu manfaat penggunaan IC untuk membangkitkan osilator adalah perangkat ini cukup ringkas. Hal ini dikarenakan anda dapat menemukan banyak sekali transistor serta berbagai macam komponen lainnya di dalam sebuah IC.

  • Sebagai Gerbang Logika

Salah satu penggunaan transistor yang paling umum adalah sebagai gerbang logika. Yang dimaksud dengan gerbang logika di sini adalah rangkaian yang paling dasar pada sebuah rangkaian digital.

transistor sebagai gerbang

Jutaan gerbang logika dapat ditemukan dalam sebuah IC yang biasanya juga digunakan pada berbagai komponen komputer seperti CPU, RAM, dan peripheral.

Saat ini, terdapat beberapa konfigurasi gerbang logika yang digunakan pada berbagai rangkaian elektronik. Beberapa diantaranya adalah gerbang NOT, gerbang NAND, gerbang OR, dan gerbang AND.

Cara Mengukur Transistor

Pada umumnya, ada 2 alat yang sering kali digunakan untuk mengukur transistor. Kedua metode itu adalah Multimeter Analog dan Multimeter Digital. Tidak hanya untuk mengukur, kedua alat tersebut juga dapat digunakan untuk menguji apakah komponen tersebut dalam kondisi yang baik. Sebelum menggunakan alat-alat tersebut, anda perlu tahu bahwa terdapat perbedaan yang signifikan diantara keduanya saat digunakan dalam pengukuran atau pengujian komponen ini. Perbedaan tersebut terutama terdapat pada tata letak Polaritas (Hitam dan Merah) Probe Multimeter Digital dan Multimeter Analog.  Berikut ini adalah cara tepat untuk menggunakan kedua alat tersebut untuk mengukur dan menguji transistor.

  1. Multimeter Analog

  • PNP

Untuk mengukur transistor PNP dengan menggunakan Multimeter Analog, anda perlu mengikuti langkah-langkah berikut ini.

  1. Pertama, anda perlu mengatur sakelar pada posisi OHM (Ω) x10k atau 1k.
  2. Langkah kedua, anda harus menghubungkan Probe Hitam pada terminal emitor (E) dan Probe Merah pada terminal basis (B). Jika jarum bergerak ke arah kiri dan menunjuk pada nilai tertentu, maka artinya transistorberada dalam kondisi yang tidak layak.

Sebaliknya, komponen ini dapat berfungsi dengan baik apabila jarum bergerak ke arah kanan.

  1. Setelah itu, anda perlu memindahkan Probe Hitam pada terminal kolektor atau (C). Seperti halnya dengan langkah kedua, komponen ini tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya apabila jarum bergerak ke kiri.

Akan tetapi, jika jarum menunjuk ke arah kanan, maka multimeter analog ini mengindikasikan bahwa transistor berfungsi dengan normal.

  • NPN

Saat anda ingin mengukur atau menguji transistor NPN dengan Multimeter Analaog, anda harus memperhatikan langkah-langkah di bawah ini.

  1. Seperti halnya saat mengukur transistorPNP dengan menggunakan Multimeter Analog, sebagai langkah pertama anda juga harus mengatur sakelar pada posisi OHM (Ω) x10k atau 1k saat mengukur komponen NPN.
  2. Kemudian hubungkan Probe Merah pada terminal E (Emitor) dan Probe Hitam pada terminal Basis (B). Jika jarum pada Multimeter Analog menunjuk ke arah kanan, maka komponen ini dalam kondisi yang layak.

Sementara itu, komponen anda tidak berfungsi normal apabila jarum Multimeter Analog menunjuk ke arah kiri.

  1. Langkah terakhir, anda harus memindahkan Probe Merah pada terminal C (kolektor). Komponen berfungsi dengan baik apabila jarum bergerak kanan dan menunjukkan kondisi yang sebaliknya apabila jarum mengarah ke kiri.
  2. Multimeter Digital

2.Multimeter Digital

Cara mengukur transistor dengan menggunakan Multimeter Digital berbanding terbalik dengan cara mengukur komponen yang sama menggunakan Multimeter Analog. Hal ini karena Mulitmeter Digital berfungsi mengukur mengukur OHM (dioda dan resistansi) pada sakelar yang sama.

  • PNP
  1. Langkah pertama yang harus anda lakukan adalah mengatur sakelar komponen pada posisi dioda.
  2. Kemudian, pastikan anda menghubungkan Probe Merah pada terminal Emitor (E). Sementara itu, Probe Hitam harus dihubungkan pada terminal Basis (B). Jika display pada Multimeter Digital menunjukkan nilai voltage tertentu, maka komponen yang anda uji berada pada kondisi yang baik.
  3. Untuk langkah selanjutnya, anda perlu memindahkan Probe Merah pada terminal kolektor (C). Transistordapat berfungsi dengan baik apabila display pada Multimeter Digital menunjukkan nilai voltage tertentu.
  • NPN
  1. Saat mengukur komponen NPN dengan menggunakan Multimeter Digital, hal pertama yang harus perlu anda lakukan yaitu mengatur sakelar pada posisi dioda.
  2. Langkah berikutnya, anda perlu menghubungkan Probe Hitam pada terminal Emitor (E). Sedangkan untuk Probe Merah, anda harus menghubungkannya dengan terminal B (Basis). Seperti pada komponen PNP, transistorNPN menunjukkan kondisi layak pakai apabila display pada alat ukur Multimeter Digital memperlihatkan nilai voltage tertentu.
  3. Terakhir, anda harus menghubungkan Probe Hiram pada terminal C (kolektor). Nilai voltage tertentu yang ditunjukkan oleh display Multimeter Digital mengindikasikan bahwa komponen NPN anda dalam kondisi yang baik.

Kategori Transistor

Secara umum, transistor dapat dengan mudah dibedakan berdasarkan kategorinya. Berikut adalah beberapa kategori komponen ini yang perlu anda tahu.

  • Berdasarkan Tipe

Berdasarkan tipenya, komponen ini memiliki beberapa jenis, diantaranya: MOSFET, MISFET, MESFET, JFET, IGFET, UJT, BJT, HBT, HEMT, IGBT, VMOSFET, dan masih banyak lagi.

  • Berdasarkan Maksimum Kapasitas Daya

Berdasarkan maksimum kapasitas daya, komponen ini dibedakan menjadi high powermedium power, dan low power.

  • Berdasarkan Aplikasi

Menurut aplikasinya, beberapa jenis komponen ini antara lain amplifier, tegangan tinggi, general purpose, audio, dan lainnya.

  • Berdasarkan Kemasan Fisik

Jika dilihat dari kemasan fisiknya, yang termasuk komponen ini diantaranya through hole plasticthrough hole metalIC, dan surface mount.

  • Berdasarkan Maksimum Frekuensi Kerja

Semantara itu, kategori transistor yang didasarkan pada maksimum frekuensi kerja antara lain microwavehigh frequencylow frequency, RF transistor, dan lain sebagainya.

  • Berdasarkan Polaritas

Berdasarkan polaritas, yang termasuk kategori komponen ini diantaranya NPN atau N-Channel dan PNP atau P-Channel.

  • Berdasarkan Materi Semikonduktor

Kategori transistor yang didasarkan pada materi semikonduktornya antara lain gallium arsenide, silikon, dan germanium.

Article Categories:
teknologi

Assalamualaikum,Saya Wasis saat ini tinggal di surabaya dan sebagai lecturer di salah satu politeknik negeri bidang energi, selain sebagai lecturer saya mengelola beberapa blog serta menyukai digital marketing, seo dan IT. email : wasiswa@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!